Rabu, 11 Juli 2012

Jacky Noya dan Emas 10 kg di Badannya

Sosok Jacky William Noya  mendadak jadi perbincangan hangat setelah muncul di dalam acara silet di sebuah stasiun televisi swasta nasional.
Pria tambun bernama Jacky William B Noya ini, merupakan putra pribumi Maluku yang lahir di Ambon 45 tahun lalu, tepatnya pada  17 April 1967. Ia adalah pengusaha sukses asal Maluku di tanah rantau Papua. Ia rencananya akan maju sebagai calon gubernur Maluku pada periode 2013-2018. Namun bukan itu yang menjadi sumber kehebohan.

Pemberitaan tentang Jacky Noya di media infotainmen televisi berkisar tentang kisah suksesnya sebagai pengusaha tambang emas. Kisah sukses ini juga dikaitkan dengan penampakan seekor naga di langit yang sempat diabadikan Jacky Noya melalui kamera hapenya. Sejak saat itu, kehidupan Jacky Noya berubah drastis menjadi sosok kaya raya setelah menemukan tambang emas di Papua. Wajar jika sekarang, aksesoris yang dipakai Jacky Noya di taksir hingga miliaran rupiah, yang terdiri dari Jam tangan seharga 5 miliar, cincin, dan kalung emas seberat total 10 kg. Sinkron dengan julukannya sebagai raja emas dari Ambon.



Jacky Noya Sosok Dermawan

Sebagai seorang yang pernah merasakan kehidupan tanah rantau, tentunya sosok Jacky Noya paham betul dengan kehidupan serba kekurangan. Maka adalah hal yang wajar ketika ia berada di puncak kesuksesan ia akan semakin dermawan. Tidak tanggung-tanggung, setidaknya 37 miliar sudah siap digelontorkan Jacky Noya untuk kesejahteraan rakyat Maluku. Mulai dari bantuan rumah peribadatan, olah raga, hingga bantuan menjelang Ramadhan dan natal 2012. Semua dilakukan Jacky Noya sebagai bentuk syukur terhadap apa yang telah diperolehnya selama ini di tanah rantau.

Melihat kesuksesan seorang Jacky Noya, tentunya ini bisa menjadi pelajaran bagi orang sukses lainnya untuk memberikan sedikit hartanya demi kemajuan daerahnya. Bukan sebaliknya, mengeksploitasi dan menghisap orang yang tidak mampu setelah menjadi pemimpin mereka.

“Saya siap maju untuk me­rebut posisi sebagai Guber­nur Maluku. Saya maju seba­gai Gubernur Maluku dengan tujuan untuk membangun Maluku yang kini terpuruk di segala bidang,” jelas Noya, kepada wartawan usai meng­hadiri kegiatan pencanangan Jumat Pagi Bersihkan Lingku­ngan (Jumpa Berlian) yang di SMPN 4, Jumat (25/5).
Diakuinya, saat ini Maluku sangat tertinggal dari daerah-daerah lain di Indonesia, terutama Maluku merupakan daerah kemiskinan tertinggi serta pengangguran maupun tertinggal dibidang infra­struktur, kesehatan dan pen­di­dikan dan ini sangat mem­prihatinkan.
“Maluku ini masih terti­nggal, sehingga menjadi do­ro­ngan bagi saya selaku anak daerah untuk kembali memba­ngun daerah ini. saya siap untuk membangun daerah demi kemahaslahatan masya­rakat Maluku yang kini dalam kondisi terpuruk. Angka ke­miskinan masih tinggi serta lapangan kerja yang sangat kurang. Inilah motivasi saya un­tuk memberikan yang ter­baik bagi daerah ini. namun semua ini saya rencanakan namun semua itu juga ber­pulang kepada basudara-basudara yang ada di daerah ini,” ujarnya.
Noya menandaskan, dirinya datang ke Maluku bukan untuk mengambil apa yang dimiliki daerah ini, namun ingin memberikan yang terbaik yakni memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Maluku.
“Saya sudah siap untuk membangun Maluku. Tanpa bantuan dari Pemerintahpun saya siap membangun daerah ini. harta itu tidak bernilai apa-apa, namun yang harus dita­bur adalah kasih sayang dan saling berbagi, inilah komit­men saya untuk membangun Maluku tanah tercinta ini,” ungkapnya.
Menurut Noya, timnya telah turun ke semua daerah di Maluku dan menemukan banyak persoalan yang melilit masayarakat mulai dari pen­dapatan, tempat tinggal, infra­struktur dibidang keagamaan, pendidikan dan kesehatan.
Terkait majunya dalam Pil­kada Maluku, Noya mengaku, saat ini dirinya sementara men­cari kendaraan politik guna mengantarnya dalam suksesi pemilihan Gubernur Maluku 2013 mendatang.
Terlepas dari jadi tidaknya Noya menjadi Gubernur, yang pasti ia sudah cukup terkenal dengan kalung emas 4kg yang selalu dia pakai.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar